Kembali Memulai - Memulai Kembali

Lirik lagu by Monita

Memulai Kembali
Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji  yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Aku mencari
Aku berjalan
Aku melangkah
Pergi

(Noted : Bacanya sambil dengerin lagu ini).

Desember 2013 adalah tahun saya menyelesaikan tanggung jawab terhadap orang tua dan tak terasa beban yang selama ini tertanam di hati otak dan pikiran menjadi pupus hilang bagaikan tak bernyawa..




Terima kasih atas apa yang telah saya lewati..
Saatnya membuka mata dan bergerak melangkah ke dalam hidup yang nyata. Di awal 2014 adalah  menjadi awal saya menyandang pengangguran.
Benar kata orang, menganggur tidak enak lantas, saya harus menanggapinya dengan senyum santai.




Sebagai seorang sarjana muda,  mencari pekerjaan adalah langkah awal untuk menapaki yang namanya kehidupan. (Agak lebay memang, tapi inilah saya)..


Foto Bersama Direktur VOA Kala Itu

Alhasil saya mendapatkan pekerjaan di salah satu TV lokal Bengkulu dan posisi yang harus saya pegang adalah kreatif program. Dalam pikiran saya, begitukah tugas kreatif program. Tapi inilah yang harus saya terima. Kerja dari pagi sampai malam mengerjakan skrip, mengatur pertanyaan, merekam suara sendiri dan turun kelapangan. Tidak terbayangkan oleh saya waktu itu.


Foto Bersama Reporter Trans 7

Begitu berat perasaan hati ini, dikala melihat semua orang bekerja ingin rasanya bekerja,dikala saya bekerja ingin rasanya bersantai dan bersenang-senang. Ah manusia , begitulah keegoisan seorang manusia. walaupun sebenarnya seluruh sel tubuh ini sakit, saya tak memperdulikan signal yang diberikan oleh tubuh saya.

Bekerja selama empat bulan di tV tersebut telah cukup membuat saya bahagia, dan Tuhan sebenarnya mendengar permintaan saya kala itu.

Ingat sewaktu masih kuliah, saya ingin sekali bekerja di perusahaan TV, melihat program yang ditawarkan begitu menarik perhatian saya. “Ah andaikan saja saya bisa bekerja di TV nasional,”

Ternyata Tuhan mendengar permohonan saya, saya pun bekerja di TV lokal. Namun didalam fikiran ini, saya harus melangkah lebih jauh, masih dengan TV nasional. Hanya saja saya harus bertahan paling tidak dua tahun.

Dan selama 4 bulan bekerja , banyak hal yang saya dapatkan. Saya belajar menulis skrip untuk program acara, menjadi pengisi suara, melakukan proses shooting-menyusun pertanyaan-mewawancarai narasumber-dan membuat proses tersebut menjadi bahan yang  siap disuguhkan kepada pemirsa. Tak terbayangkan pula, saya pernah menjadi news caster meski hanya sebagai pengganti.

Semua hal yang diinginkan oleh saya di jawab oleh Tuhan secara tidak langsung, ia mendengar permintaan saya waktu itu meski saya hanya bertahan 4 bulan. Namun tiba-tiba Tuhan memberikan saya waktu untuk merenungi sesuatu selama 7 bulan.

Dan selama 7 bulan itu, ada rasa tak terima bergejolak didalam hati. Ingin memaki siapa saja yang ada di hadapan saya. Begitu besar luapan kekesalan saya saat itu, siapa yang bertanggung jawab? “Diri mu lah, kata Tuhan”.

Huffftt..memang tidak mudah mendapatkan sesuatu yang tidak bisa saya terima, tapi apalah daya saya. Hanya seorang hamba Tuhan yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa..
Hari demi hari, bulan berganti dan bertukar tahun.

Saya harus bangkit, saya harus menjalani ini semua dengan menerima kondisi, karena saya tak tahu akan seperti apa saya kedepannya nanti.

Akhirnya 2015 saya mencoba bertemu dengan orang-orang lagi, memulai kembali dan menjadi penuh dramaturgi yang membuat air muka tetap ceria.


Bersama Kepala Bank BI Prov. Bengkulu

Talkshow Mengenai Perempuan bersama anggota DPD RI 

Hal –hal yang saya lewati selama dua tahun terakhir memang menjadi tahun untuk saya mencoba memulai lagi.



Bertemu dengan orang-orang baik belum sepenuhnya membuat saya bangkit, untuk menerima pun masih di dominasi rasa ego yang tinggi. Sampai akhirnya saya benar-benar siap dan mencoba untuk berbeda dan melepaskan semua keinginan-keinginan saya.



Mungkin Tuhan berkata sambil tersenyum,”inilah yang kau butuhkan, tetaplah berjalan kedepan tanpa melihat siapa kau dahulu dan cobalah untuk memulai kembali”.

Terima kasih Tuhan,” Aku tahu Kau begitu menyayangiku”. Dan begitulah Memulai Kembali.
Sampai saat ini, saya telah merasakannya, merasakan akan kebahagiaan, merasakan betapa indahnya tertawa, merasakan indahnya kebersamaan, dan merasakan indahnya berbagi.




Tanpa ada lagi lubang hitam dalam hati.

Seseorang berbicara pada saya, “Jemputlah kebahagiaan oleh diri mu sendiri”.




Tulisan ini, saya ucapkan terima kasih pada diri saya,yang ikhlas menjalani ini semua.

Salah satu kutipan tulisan dari Oprah Winfrey dalam buku Yang Aku Tahu Dengan Pasti pada halaman 61 ;
“Terkadang kita terlalu terfokus pada kesulitan pendakian kita sehingga kita lupa bersyukur bahwa kita masih punya gunung untuk didaki”.

Mungkin dari kalian menganggap bahwa saya berlebihan, TIDAK!. Jujur ini lah saya seorang septa yang introvert dan mencoba berubah ke ekstrovert.

Saya berani menulis ini, karena saya menganggap kalian bisa memaklumi saya pribadi.
Dan saya tidak tahu kenapa, kejadian kemarin membuat saya bahagia dan tidak melupakan moment tersebut. Bahkan akan menjadi catatan tersendiri bagi saya dan akan kutuangkan kedalam bentuk rangkaian kata-kata yang saling mengalir.

Aku mencari
Aku berjalan
Aku melangkah
Pergi

“Jika satu-satunya doa yang pernah Anda ucapkan di seluruh hidup Anda adalah ‘Terima Kasih’, itu sudah cukup”.
-Meister Echart

Terima kasih untuk kalian semua love you all.



Noted: Kita semua memiliki masalah, dan tugas kita adalah bagaimana kita membuat masalah itu menjadi solusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar

Adbox